Mengenal 8 Nama Upacara Adat Sumatera Selatan yang Sudah Mulai Jarang Terlihat

Setiap daerah yang ada di Indonesia tentu memiliki tradisi adat dengan ciri khasnya sendiri. Salah satunya yaitu provinsi Sumatera Selatan.

Provinsi ini sering dikenal dengan bumi Sriwijaya yang mempunyai tradisi adat dengan beragam dan cukup unik. 

Kenapa dinamakan bumi Sriwijaya? 

Karena pada awalnya, provinsi ini menjadi pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, Sumatera Selatan terkenal dengan makanan kuliner khasnya seperti pempek, tekwan dan lain sebagainya. 

Lalu, Sumatera Selatan juga mempunyai kekayaan tradisi adat dan budaya yang unik. Dengan berjalanya waktu, tradisi adat ini mulai jarang terlihat sehingga hampir punah. 

Jenis-jenis Upacara Adat Sumatera Selatan

Sumatera Selatan memiliki ciri khas budaya yang khas. Salah satunya yaitu tradisi atau upacara adat. 

Ingin tahu apa saja upacara adat Sumatera Selatan tersebut? 

Yuk simak ulasan berikut!

1. Upacara Adat Perkawinan

Upacara adat Sumatera Selatan yang pertama yaitu perkawinan. Upacara perkawinan ini sering digunakan untuk acara nasional atau modern. 

Namun, sudah mulai jarang untuk mengikuti tata caranya karena dipandang rumit dan menguras biaya. 

Tata cara uapacara adat ini yaang berkmabang di mayarakat lebih yang mudah sesuai dengan kehidupan modern. 

Jika menerapkan perkawinan Palembang, maka seharusnya tiga bulan menjelang akad nikah pihak mempelai pria dan wanita akan melakukan acara mutus rasan. 

Setelah mendapat sepakat, akan dilakukan pemberian sembilan bahan pokok dari mempelai pria sebagai buah tangan  ke rumah mempelai wanita. 

Namun, sayangnya tradisi ini sering diadakan dan digabungkan dengan acara akad nikah. 

Sehingga, acara madik untuk pembukanya dan munggah untuk acara puncak dari seluruh rangkaian prosesi adat yang sudah bergeser dan nggak seperti sebelumnya.

2. Upacara Adat Mangongkal Holi

Mangongkal holi merupakan salah satu upacara adat Batak yang dilakukan oleh sebagian etnis Batak. 

Kata “mangongkal” berarti menggali, sedangkan “holi” berarti tulang, jadi mangongkal holi yaitu menggali tulang . 

Hal ini serupa dengan menggali kuburan manusia untuk memindahkan tulang dari orang yang sudah lama meninggal, lalu dipindahkan ke kuburan baru. 

Dengan menurut kepercayaan masyarakat batak, orang yang sudah meninggal dunia bukanlah “tiada” namun menuju ke proses yang lebih sempurna di alam keabadian dan berkumpul dengan arwah satu keluarga.  

kepercayaan ini sudah turun temurun, sehingga etnis Batak juga melakukan prosesi upacara adat ini. 

Selain itu, upacara adat ini bukan sekedar memindahkan tulang ke kuburan baru saja, namun juga membuat “tugu marga”.

3. Upacara Adat Bekarang Iwak

Upacara adat Sumatera Selatan yang ketiga yaitu bekarang iwak. Bekarang iwak adalah salah satu upacara adat masyarakat Palembang untuk menangkap ikan secara bersama-sama di sungai lacak. 

Pada upacara ini masyarakat bisa mengambil ikan secara gratis di sana. Biasanya, upacara ini dilakukan satu tahun sekali oleh masyarakat setempat. 

Sebelum membawa ikan pulang, hasil ikan tangkapan tersebut dibedakan terlebih dahulu menjadi ikan yang kecil dan besar. Untuk hasil ikan besar akan diberi kepada tetua adat untuk dijual ke pasar. 

Sedangkan, hasil ikan kecil bisa dibawa pulang oleh masyarakat setempat. Hasil dari penjualan ikan besar tadi akan dipakai untuk kepentingan umum berupa untuk membangun masjid, jembatan dan lain sebagainya.

4. Upacara Adat Bebehas

Bebehas adalah salah satu upacara adat Sumatera Selatan yang dulu sering dilakukan oleh masyarakat pedesaan di Kabupaten muara enim Sumatera Selatan.

Kegiatan ini sering dilakukan masyarakat untuk mengadakan hajat, misalnya seperti ingin menikahkan putra putrinya atau yang sering disebut dengan ngantenkan. 

Uniknya, upacara adat ini hanya dilakukan oleh para ibu dan anak wanitanya saja. 

Pada umumnya, upacara ini terbagi menjadi beberapa tahap. Pada tahap awal mulai melakukan dengan memisahkan padi pada tangkainya atau yang masyarakat setempat menyebutnya mengirik. 

Jika padi sudah dilepaskan dari tangkainya, biji padi tersebut akan dijemur. Tahap ini sering disebut dengan mengisap.

5. Upacara Adat Sedekah Rame

Salah satu upacara adat Sumatra Selatan di Kabupaten Lahat yaitu sedekah rame. 

Biasanya, upacara adat ini sering dilakukan oleh para petani yang bertujuan agar hasil panen mereka berlimpah dan diberi kelancaran di setiap tahapan panen. 

Pada awalnya, upacara adat ini disambut dengan tokoh adat. Lalu, penyampaian amanat yang diiringi doa bersama. Upacara adat ini diakhiri dengan kegiatan makan bersama yang sudah disediakan oleh ibu-ibu.

6. Upacara Adat Nganterke Belanjo

Upacara adat Sumatera Selatan berikutnya yaitu nganterke belanjo. Upacara adat ini merupakan sebuah profesi yang sering dilakukan sebulan atau setengah bulan sebelum acara Munggah. 

Prosesi ini sangat banyak dilakukan pada kaum wanita, sedangkan kaum pria cuma dapat mengiringi saja. 

Upacara ini memiliki tempat yang sudah lazim untuk digunakan, seperti uang belanja (duit belanjo) dimasukan dalam ponjen berwarna kuning dengan atribut berbentuk manggis. 

Lalu, pada hantaran dari calon mempelai pria dilengkapi dengan nampan sekitar 12 buah yang berisi aneka keperluan pesta, seperti  terigu, gula, buah-buahan kaleng, kue-kue dan jajanan. 

Selain itu,diantar juga ’enjukan’ atau permintaan yang sudah ditetapkan saat mutuske kato, yaitu salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai dengan kesepakatan bersama.

7. Upacara Adat Munggah

Tradisi Munggah adalah salah satu puncak rangkaian acara pernikahan adat di Palembang.  

Pada umumnya, hari munggah ditetapkan pada hari libur sesudah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. 

Sebelum acara di pagi hari, pihak mempelai wanita akan datang ke rumah pihak laki-laki dengan mengutus satu pasang lelaki dan wanita. 

Selain melibatkan pihak keluarga dari kedua mempelai, acara ini juga dihadiri oleh para tamu undangan. 

Upacara ini bertujuan agar kedua pengantin dapat menjalani hidup berumah tangga yang selalu seimbang, timbang rasa, serasi dan damai. 

Tempat untuk dilaksanakan acara ini, yakni rumah kediaman keluarga pengantin wanita. 

Sebelum melakukan prosesi acara ini terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju ke rumah mempelai pengantin wanita.

8. Upacara Adat Tepung Tawar 

Upacara adat Sumatera Selatan terakhir yaitu tepung tawar. Tepung tawar adalah salah satu tradisi untuk menyuapkan ketan kunyit dan ayam kepada seseorang. 

Upacara adat ini memiliki tiga jenis, yakni untuk tolak bala, pernikahan, dan perdamaian. 

Pada tepung tawar untuk tolak bala, biasanya sering dilakukan oleh keluarga yang mengalami kecelakaan atau tertimpa musibah. 

Dengan melakukan tradisi ini yaitu meminta perlindungan kepada Allah SWT. 

Perbedaan dengan tradisi tepung tawar di Sumatera Selatan yang ada di daerah melayu yaitu mereka tidak memakai bahan seperti tepung.

Demikianlah, berbagai macam upacara adat di Sumatera Selatan yang saya jelaskan satu persatu. Setiap satu upacara terdapat ciri khasnya sendiri. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.