8 Nama Upacara Adat Papua yang Masih Dilestarikan Hingga Saat Ini Beserta Penjelasannya

Papua merupakan pulau eksotis yang terletak di bagian ujung Timur Indonesia. Ada banyak hal yang harus digali mengenai Papua. 

Dengan memiliki tambang, tembaga dan emas di pulau tersebut, ada juga hal lain yang sangat menarik untuk diketahui. 

Pulau ini mempunyai historis perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan sehingga militer harus turun tangan untuk membantu. 

Selain itu, provinsi ini juga mempunyai luas 312.224,37 km2 dari total luas pulau 421.981 km2 dan berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini. 

Pada awalnya, wilayah ini terkenal dengan nama Irian Jaya. Tetapi, pada tahun 2003, Pulau ini dibagi menjadi dua provinsi, yaitu Papua Barat di bagian Barat dan Papua di bagian Timur. 

Jadi, jika ada yang menyebut Papua, maka yang dimaksud yaitu Provinsi Papua di bagian timur Pulau Papua. Ibukota provinsi Papua yaitu kota Jayapura. 

Nama-Nama Upacara Adat Papua

Selain memiliki tambang, tembaga dan emas di pulau Papua. 

Papua mampu menarik para wisatawan untuk berkunjung ke wilayah Papua. Hal ini karena Papua memiliki keindahan alam, seperti raja ampat, gunung cartenz, pegunungan jayawijaya, rumah honai, pakaian adat, alat tradisional, rumah adat dan upacara adat. 

Jadi, nggak heran jika banyak orang yang datang untuk berwisata. Nah, saya akan membahas tentang upacara adat Papua yang masih dilakukan sampai sekarang. 

Ingin tahu apa saja? 

Yuk, simak ulasan berikut:

1. Upacara Adat Bakar Batu

Upacara adat Papua yang pertama yaitu bakar batu. 

Tradisi ini masih terus dilakukan hingga saat ini khususnya masyarakat Papua yang tinggal di Baliem, Paniai, Nabire, pegunungan Tengah, pegunungan bintang, Jayawijaya, Dekai, Yahukimo dan lain sebagainya. 

Masyarakat tersebut melakukan upacara adat ini sebagai bentuk rasa syukur mereka kepada sang pencipta. 

Dulu, upacara ini sering dilakukan dengan cara mengumpulkan orang-orang di kampung dan prajurit untuk berperang. 

Dengan berjalannya waktu, upacara ini dilaksanakan untuk menyambut tamu yang diiringi dengan berbagai suku lainnya. 

Dimana, setiap suku tersebut akan mempersembahkan daging babi atau daging lainnya yang akan dimasak bersama di atas tumpukkan batu yang panas. 

Lalu, daging tersebut akan dimakan secara bersama-sama. Dengan adanya tradisi ini dipercaya bisa menyatukan dengan berbagai suku yang ada di Papua. 

2. Upacara Adat Kematian

Di Papua memiliki perbedaan antara warga biasa dan kepala suku yang terjadi saat upacara kematian. 

Jika ada kepala suku atau kepala adat yang mati, maka jasadnya akan disimpan dengan bentuk mumi yang dipajang di depan joglo. 

Sedangkan, jika yang meninggal warga biasa jasadnya akan dikuburkan. 

Pada saat melakukan proses ini dijalankan biasanya diiringi dengan nyanyian berbahasa asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang telah ditinggalkan. 

Orang asmat juga melakukan upacara selamatan yang sering disebut dengan emak tajem. 

Tradisi ini sering dikenal dengan tradisi suku bangsa yang penghuninya lembah baliem. 

3. Upacara Adat Tindik Telinga

Upacara adat tindik telinga sering disebut juga dengan ero era tu ura. Upacara adat ini dilakukan untuk menindik telinga anak-anak yang usianya tiga sampai lima tahun. 

Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun yang disebut dengan aebe siewi dan dihadiri oleh keluarga dari anak yang ingin ditindik. 

Anak tersebut duduk di tikar sambil dikelilingi oleh anak-anak lainnya yang diundang, lalu telinganya akan ditindik dengan alat khusus. 

Tujuan dari upacara adat ini untuk menjaga telinga si anak dan berharap supaya anak yang sudah ditindik selalu mendengarkan suara-suara yang baik saja.

4. Upacara Adat Perkawinan Suku Biak

Upacara adat Papua selanjutnya yaitu perkawinan suku biak. Upacara adat ini merupakan salah satu tradisi turun-temurun yang dimiliki suku Biak di daerah di Papua. 

Makna dari tradisi ini yaitu untuk upacara adat yang bersinggungan dengan kehidupan religius warga Biak. 

Bagi masyarakat suku Biak, upacara adat ini merupakan sebuah kewajiban yang wajib dijalankan keluarga inti dengan melibatkan kerabat suami istri. 

Tujuannya yaitu untuk meminta perlindungan anak mereka pada sang pencipta. 

Biasanya, masyarakat suku biak melakukan upacara adat ini untuk mengiringi pertumbuhan fisik anak. Mulai dari dalam kandungan, lahiran, sampai usia tua dan kematian.

5. Upacara Adat wor 

Wor merupakan salah satu upacara adat yang sering dilakukan oleh suku Biak, suku ini terkenal sebagai kelompok etnis terbesar yang berada di wilayah tanah Papua. 

Upacara adat ini diiringi dengan nyanyian dan tarian yang dilakukan oleh masyarakat Biak saat adanya kejadian penting kelahiran, pernikahan, kematian, berlayar, bertani dan berburu. 

Upacara ini mempunyai nilai-nilai budaya dan simbol kepercayaan masyarakat Biak yang terkait hubungan makhluk hidup dan alam yang menjadi tempat tinggal mereka. 

Ritual ini akan dipimpin oleh kepala adat yang diiringi dengan alat musik Tifa.

6. Upacara Adat Suku Iki Palek

Upacra adat berikutnya yaitu suku iki palek. Upacara adat ini sudah terkenal sampai ke luar wilayah Papua. Upacara iki palek ini sering dilakukan oleh suku Dani yang lebih dikenal dengan tradisi potong jari. 

Jika ada anggota keluarga yang meninggal, maka mereka akan memotong ruang jarinya. Dengan begitu, mereka menunjukan rasa sedih dan kehilangan atas kepergian orang terkasih. 

Bagi masyarakat Dani kekeluargaan adalah sesuatu yang sangat penting sehingga menangis aja nggak cukup. 

Maka dari itu,  mereka melakukan tradisi ini supaya rasa sakit saat pemotongan jari tidak sebanding dengan kesedihan mereka. 

Kenapa jari jari yang dipotong? 

Karena, jari adalah simbol dari keharmonisan, persatuan dan kekuatan. 

Pada awalnya, ritual ini dilakukan oleh perempuan, namun ada juga laki-laki yang mengikuti tradisi ini. Memotong jari ada berbagai macam, yakni menggunakan kapak atau pisau. 

Selain itu, ada juga yang memakai tali, lalu diikatkan di ruas jari mereka sampai aliran darah berhenti. Jika aliran darah sudah berhenti, maka pemotongan ruas jari bisa dilakukan. 

7. Upacara Adat Tanam Sasi

Upacara adat tanam sasi berada di daerah Kabupaten Merauke. Upacara ini sama seperti kayu yang dilakukan untuk bagian dari rangkaian upacara kematian. 

Sasi ditanam selama 40 hari setelah kematian seseorang dan akan dicabut kembali jika sudah 1.000 hari. Budaya dari suku asmat dengan ukiran dan souvenir yang terkenal sampai ke mancanegara. 

Ukiran ini mempunyai empat makna, yakni:

  • menghadirkan roh nenek moyang.
  • sebagai ungkapan rasa rasa sedih dan bahagia.
  • melambangkan kepercayaan dengan motif manusia, hewan, tumbuhan dan benda lain.
  • melambangkan keindahan dan gambaran memori nenek moyang.

8. Upacara Adat Ararem

Upacara adat Papua yang terakhir yaitu ararem. Upacara adat ini sering dilakukan suku Biak di Papua saat acara pernikahan. 

Tradisi ini untuk mengantarkan mas kawin dari calon mempelai pria ke rumah mempelai wanita. 

Dimana, keluarga calon mempelai pria akan mengantarkan seserahan seperti guci, piring-piring adat, baju dan lain sebagainya sambil berjalan kaki. 

Selama di perjalanan, rombongan keluarga calon mempelai pria akan diiringi dengan tarian dan nyanyian.

Nah, itulah ulasan mengenai upacara adat Papua yang memiliki keunikannya sendiri. Upacara tersebut masih dilestarikan oleh masyarakat Papua sampai sekarang. Terima kasih atas kunjungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.