Mengenal 7 Macam Upacara Adat Sumatera Barat Beserta Gambar dan Penjelasannya

Indonesia memiliki berbagai macam budaya dan adat istiadat sesuai dengan daerah masing-masing. Salah satunya yaitu Sumatera Barat. 

Provinsi Sumatera Barat mungkin sangat identik dengan suku Minangkabau yang banyak menganut syariat Islam dan unsur Melayu.

Selain itu, kebudayaan provinsi Sumatera Barat mempunyai ciri khas dan karakter yang cukup kuat. Nah, kali ini saya akan membahas tentang upacara adat yang ada di Sumatera Barat, yakni:

Nama-Nama Upacara Adat Sumatera Barat Beserta Penjelasannya

Tradisi adat di Sumatera Barat adalah salah satu hal yang menarik untuk dibahas. 

Hal ini karena, wilayah tersebut diduduki oleh penduduk Minang yang memiliki kearifan lokal tersendiri dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. 

Berikut nama-nama upacara adat Sumatera Barat, yakni:

1. Upacara Adat Makan Bajamba

Upacara adat Sumatera Barat yang pertama yaitu makan bajamba. 

Makan bajamba merupakan salah satu kegiatan makan-makan yang dihadiri oleh masyarakat Minang dengan cara duduk bersama-sama di sebuah tempat yang telah disediakan. 

Tujuan dari tradisi ini untuk mendekatkan diri satu sama lain tanpa harus memandang kelas sosial. 

Biasanya, upacara adat ini dilaksanakan saat hari-hari libur keagamaan atau saat sedang ada pesta adat.  

Nggak heran jika upacara ini dipadati oleh wisatawan yang penasaran pada makan bajamba. 

Dengan alas seadanya dan meja yang panjang menjadi tempat pertemuan yang berlangsung. 

Bahkan, kelompoknya terdiri dari puluhan sampai ratusan orang yang duduk berhadap-hadapan di meja yang memanjang. 

Pada tahun 2006, tradisi ini memperingati HUT kota Sawahlunto yang ke 123, lalu pemerintah mengadakan makan bersama-sama yang diikuti dengan 16 ribu orang.

2. Upacara Adat Tabuik

Tabuik adalah tradisi tahunan yang sering dilakukan oleh masyarakat pariaman, Sumatera Barat. 

Upacara ini sudah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu, pada abad ke-19 Masehi. Tradisi ini memperingati hari wafatnya seorang cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali bin Abi Thalib, pada tanggal 10 Muharram. 

Dalam cerita sejarah, Husein dan keluarganya wafat di hari itu pada peristiwa Karbala. Kata tabuik berasal dari bahasa Arab artinya “peti kayu”. 

Kata ini merujuk pada legenda tentang keberadaan makhluk yang berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang sering disebut buraq.

Legenda tersebut menceritakn tentang setelah wafatnya Husein. Potongan jenzahnya du masukkan ke sebuah kotak kayu, lalu akan diterbangkan ke langit oleh buraq tersebut.

Dengan legenda inilah, masyarakat pariaman membuat tiruan buraq yang sedang mengusung tabut di punggungnya pada saat perayaan upacara adat ini.

3. Upacara Adat Jawi

Upacara adat Sumatera Barat yang ketiga yaitu jawi. 

Upacara adat jawi adalah salah satu tradisi unik yang berasal dari tanah datar, khususnya yang tinggal di Kecamatan Sungai Tarab, Lomo Kaum, Rambatan dan Pariangan. 

Tradisi ini juga sering dijumpai di Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh kota. 

Untuk pacu jawi mirip dengan karapan sapi di Madura, tetapi cuma pacu jawi yang menggunakan lahan basah berlumpur. Sedangkan, karapan sawi memakai lahan kering. 

Selain itu, joki pacu jawi akan menggigit ekor sawi agar dapat menambah kecepatannya, lalu karapan sapi menggunakan sebilah tongkat.

4.Upacara Adat Turun Mandi

Turun mandi adalah salah satu upacara adat yang mendarah daging di tanah Minang hingga saat ini. 

Tujuan dari tradisi ini yaitu ucapan rasa syukur kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat Allah seperti bayi yang baru lahir. 

Dengan keyakinan masyarakat setempat, tradisni ini termasuk sunnah Rasul yang memperkenalkan kepada masyarakat bahwa telah lahirnya keturunan baru dari sebuah suku maupun keluarga. 

Tidak sembarang orang untuk melakukan tradisi ini. Syarat dan ketentuannya berlaku dan sudah diterapkan turun temurun.

5. Upacara Adat Berburu Babi

Upacara adat Sumatera Barat yang kelima yaitu berburu babi. 

Berburu babi adalah salah satu tradisi yang sudah turun temurun di kalangan masyarakat Minangkabau. Pada umumnya, tradisi ini sering dilakukan oleh kaum muda. 

Berburu babi Sumatra barat mempunyai perbedaan dengan berburu babi pada umumnya. 

Masyarakat Sumatera Barat berburu babi menggunakan anjing agar bisa menangkap babi-babi hutan yang merusak tanaman petani. 

Biasanya, kegiatan ini di lakukan setiap hari pekan dan berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya. 

Lalu, hasil tangkapan babi-babi tersebut hanya dijadikan makanan anjing peliharaan mereka. 

karena masyarakat Minang mayoritasnya menganut agama Islam. Jadi, jika mengkonsumsi daging babi adalah haram.

6. Upacara Adat Batagak Penghulu

Upacara adat Sumatera Barat selanjutnya yaitu batagak panghulu (pengangkatan penghulu). 

Sebelum peresmian seorang penghulu baru, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu laki-laki, baik bibitnya, berakal, baligh, berilmu, adil, bijaksana, pemurah, tulus,sabar, kaya dan ramah.

Dalam melakukan upacara adat ini harus sesuai dengan adat dan cara yang sama sejak dulu. 

Pertama diawali dengan pidato, lalu penghulu tua akan melakukan serah terima jabatan dengan memasangkan data, kemudian memasukan sebilah keris untuk tanda bahwa penghulu sudah pindah kuasa.

Pada umumnya, upacara adat ini bukan hanya agenda rutin yang dilakukan saat waktu-waktu tertentu saja, namun bersifat kondisional yang dilakukan jika seorang penghulu adat sudah tiba waktunya untuk diganti.

7. Upacara Adat Balapeh

Balopeh adalah salah satu upacara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat silungkang, Sumatera Barat. 

Upacara adat ini seperti pemberian gelar kepada mempelai laki-laki di waktu pernikahan. Pria dewasa di silungkang wajib mempunyai gelar, seperti datuk Maringgih, Rajo Sampono dan lain sebagainya. 

Pria yang sudah menikah dan mempunyai gelar nggak  boleh dipanggil dengan nama panggilannya, namun dengan nama gelarnya. Pemberian gelar tersebut dilakukan oleh ketua adat di desa setempat. 

Nama yang digunakan untuk gelar yaitu nama warisan turun temurun dari keluarga mempelai laki-laki. Tujuan dari pemberian gelar untuk memudahkan jika terjadi sengketa lahan atau permasalahan yang lain. 

Hal ini karena, orang yang terlibat dalam masalah bisa dilihat dari gelarnya dan bisa diselesaikan dengan pemilik gelar yang sama. 

Biasanya, upacara adat ini dilakukan di rumah mempelai laki-laki. Pada pagi hari, mempelai perempuan akan mendatangi rumah mempelai laki-laki dengan membawa makanan untuk makan bersama keluarga mempelai laki-laki. 

Selesai acara makan, calon mempelai laki-laki akan masuk ke dalam rumah untuk melakukan prosesi pemberian gelar oleh ketua adat. 

Kemudian, acara ini diakhiri dengan pembacaan doa, karena semua gelar yang diberikan adalah nama-nama yang baik. 

Setelah acara semua selesai, rombongan keluarga perempuan pulang dengan membawa uang dan beras yang diberi dari keluarga mempelai laki-laki. 

Namun, acara ini hanya mempelai perempuannya saja yang diizinkan untuk hadir dan ibunya nggak diizinkan. 

Demikianlah, pembahasan tentang 7 upacara adat Sumatera Barat yang memiliki keunikannya masing-masing. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.