9 Nama Upacara Adat Sumatera Utara yang Populer Di Indonesia dan Masih Dilestarikan Sampai Sekarang

Upacara adat Sumatera Utara adalah salah satu informasi yang sangat penting untuk diketahui guna memperluas wawasan Nusantara. 

Selain terkenal dengan danau Toba, Sumatera Utara juga didominasi dengan suku Batak yang mempunyai beragam kebudayaan. 

Salah satunya yaitu tradisi upacara adat Sumatera Utara yang dilakukan secara turun-temurun dan menjadi ritual bagi masyarakat setempat.

Nama-Nama Upacara Adat Sumatera Utara

Upacara adat merupakan salah satu tradisi yang ada di setiap daerah. Biasanya, Upacara ini warisan turun temurun dari leluhur mereka. 

Sama seperti Sumatera Utara yang mempunyai berbagai macam adat istiadat yang masih dilestarikan sampai sekarang. 

Berikut ini upacara adat Sumatera Utara yang memiliki keunikan tersendiri yaitu:

1. Upacara Adat Kenduri Laut

Upacara adat Sumatera Utara yang pertama yaitu kenduri laut. Upacara adat ini berasal dari daerah Tapanuli Tengah. 

Biasanya, tradisi ini dilakukan setahun sekali di bulan Oktober. Tradisi ini berlangsung di pantai saat malam hari sampai siang hari. 

Dengan adanya kenduri laut, hal ini tentu melibatkan semua elemen dari 11 Kecamatan yang ada di Tapanuli Tengah. 

Setiap Kecamatan pasti ada perwakilannya masing-masing yang akan membawa hasil pertanian dan juga ternak. Kemudian, bawaan tersebut ditunjukkan di atas panggung (parade) secara bergantian. 

Sementara itu, diadakan juga berbagai lomba seperti lomba perahu naga, layang-layang dan lain sebagainya. 

Kemudian di iringi dengan hiburan seperti pertunjukkan seni baik oleh seniman setempat maupun luar daerah diundang untuk memeriahkan suasana. 

Makna dari tradisi ini sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas melimpahnya hasil panen dan hasil laut.

2. Upacara Adat Sigale-Gale

Sigale-gale merupakan salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh suku Batak di Samosir. Biasanya, tradisi ini dilakukan saat acara adat atau budaya terutama upacara kematian. 

Masyarakat setempat meyakini bahwa tradisi ini bisa mengantar roh ke tempat selanjutnya. Sigale-gale yaitu boneka kayu yang bentuknya mirip dengan manusia. 

Dibagian kepala boneka dilumuri kuning telur dan diberi rambut kuda yang mengikat. Pada bagian matanya, diberi buah-buahan berwarna merah, lalu giginya diberi cat warna hitam. 

Saat semua perlengkapan sudah dipenuhi boneka, boneka tersebut diletakkan diatas papan. Kemudian diarak keliling kampung dengan diiringi musik tradisional. 

Selain itu, boneka ini dianggap sebagai simbol dari orang yang sudah meninggal. Saat malam terakhir tradisi ini boneka itu akan dihanyutkan ke danau Toba. 

Hal ini bertujuan untuk membuang nasib sial supaya tidak menimpa keturunan lainnya.

3. Upacara Adat Marhajabuan

Upacara adat Sumatera Utara yang ketiga yaitu marhajabuan. Marhajabuan merupakan salah satu upacara adat yang harus dilakukan oleh pengantin di daerah Simalungun supaya pernikahannya dianggap sah. 

Tujuan dari upacara adat ini yaitu untuk memberikan pemberkatan setelah berlangsungnya acara pernikahan.

4. Upacara Adat Masa Kehamilan

Upacara kehamilan adalah suatu upacara yang sangat penting untuk dilaksanakan. Masyarakat Batak Toba terkenal dengan beberapa nama upacara saat masa kehamilan, yakni upacara manghare atau mangganje. 

Kata tersebut dikenal juga dengan istilah mardohar. Dalam upacara ini ada beberapa ramuan di dalam hare yang memiliki makna permohonan kepada tuhan supaya setiap makhluk halus berhati damai. 

Kemudian, diberi kepada sang bayi yang akan lahir. Dengan begitu, seluruh roh-roh jahat dan roh penjaga keramat tidak akan mengganggu kehamilan sehingga kandungan tersebut nggak akan keguguran, nggak cacat, sehat dan kuat.

5. Upacara Adat Mandi Balimo

Mandi balimau merupakan salah satu upacara adat Sumatera Utara dengan membersihkan badan sebelum bulan suci Ramadhan. 

Sebelum masuknya bulan Ramadhan, masyarakat sumut khususnya kota medan mengadakan prosesi mandi balimo dengan cara mandi guyuran air yang sudah dicampur dengan rempah-rempah. 

Aroma rempah-rempah tersebut sangat terasa di hidung, namun tetap melakukan mandi balimo. Pada umumnya, air tersebut memakai perasan jeruk purut lalu airnya diguyurkan ke seluruh tubuh mereka. 

Upacara adat ini mempunyai tujuan agar umat Islam dapat membersihkan tubuh dan jiwa dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. 

6. Upacara Adat Hombo Batu 

Tradisi hombo batu atau yang disebut dengan lompat batu merupakan tradisi asli yang berasal dari desa bawo matulo Nias. 

Upacara adat ini bertujuan untuk menentukan seorang pemuda sudah dewasa atau belum dan sudah bisa menikah atau belum. 

Untuk mengikutinya dengan cara, seorang pemuda harus bisa melompati batu yang lebih dari 2 meter dan melewati sebuah batu kecil untuk pijakan. Saat melompatinya, pemuda itu harus menggunakan pakaian adat khas Nias.

7. Upacara Adat Mangulosi

Pemberian ulos tondi adalah sebuah upacara adat Sumatera Utara yang sering dilakukan untuk menyambut kedatangan sang bayi yang baru lahir. 

Pada upacara ini ayah dan ibu dari bayi tersebut akan memberi kalung kain ulos kain khas Batak. 

Hal ini sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur mereka pada keluarga yang sudah dikaruniai anak bayi untuk meneruskan keturunannya di masa yang akan datang nantinya. 

Upacara adat ini bersifat sakral dan dilestarikan oleh masyarakat Batak hingga saat ini.

8. Upacara Adat Gundala-Gundala 

Upacara Sumatera Utara selanjutnya yaitu gundala-gundala. Gundala-gundala adalah salah satu tarian yang berasal dari masyarakat suku Karo, Sumatera Utara. 

Tarian ini digunakan untuk ritual pemanggil hujan dalam upacara ndilo wari udan saat terjadinya kemarau panjang. Ritual ini lahir dari sebuah legenda di Kabupaten Karo. 

Dulu, ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja yang bernama sibayak. Saat itu, Raja sibayak bertemu dengan seekor burung jelmaan seorang pertapa sakti bernama gurda gurdi. 

Lalu, sang raja membawa pulang gurda gurdi yang dijadikan untuk penjaga putrinya. 

Ternyata, burung ini mempunyai kekuatan yang bersumber dengan paruhnya. Sehingga, ada beberapa pantangan yang nggak boleh disentuh oleh siapapun. 

Pada suatu saat, paruh tersebut tersentuh tanpa sengaja oleh sang putri dan burung tersebut menjadi marah besar dan memberontak. Akhirnya, sang Raja menyuruh pasukannya untuk menyerang burung itu sampai mati. 

Kematian dari burung itu  menimbulkan kesedihan bagi masyarakat Karo. Di tengah kesedihan, langit menurunkan hujan yang lebat seolah-olah ikut menangisi kepergian burung tersebut. 

Dari cerita tersebut, lahirlah sebuah ritual gundala-gundala untuk memanggil hujan.

9. Upacara Adat Manombah 

Upacara adat Sumatera Utara yang terakhir yaitu manombah. 

Manombah merupakan salah satu upacara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat Simalungun untuk menyembah kepada yang maha kuasa. 

Upacara adat ini memiliki simbol untuk mendekatkan diri kepada yang maha kuasa supaya terhindar dari marabahaya dan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.

Nah, itulah ulasan tentang upacara adat sumatera utara yang memiliki ciri khas dan keunikannya tersendiri. Bahkan upacara tersebut masih dilestarikan sampai sekarang. Terima kasih atas kunjungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.