Mengenal 10 Nama Upacara Adat Jawa Tengah yang Masih Berkembang Hingga Saat Ini

Jawa Tengah merupakan daerah di Nusantara yang cukup terkenal dengan adat istiadatnya. Bahkan, sebagian upacara adat masih dipertahankan sampai sekarang. 

Adat istiadat adalah instrumen yang sangat penting untuk kehidupan masyarakat. Selain itu, adat istiadat juga merujuk pada ciri khas masyarakat yang diperlukan untuk hidup bersama. 

Biasanya, upacara adat Jawa Tengah digunakan untuk berbagai acara atau hajatan masyarakat, pernikahan, syukuran dan menghindari bala. Mulai dari yang bersifat pribadi hingga kepentingan bersama.

Nama-Nama Upacara Adat Jawa Tengah

Pada umumnya, upacara adat dilakukan banyak orang khususnya Jawa Tengah bukan cuma untuk sebuah hiburan saja, tetapi rasa syukur kepada  yang pencipta. 

Berikut ini nama-nama upacara adat Jawa Tengah yang berkembang hingga saat ini, yaitu:

1. Upacara Adat Kenduren

Upacara adat Jawa Tengah yang pertama yaitu kenduren. Kata lain dari kenduren yaitu slametan yang sering dikenal oleh kalangan masyarakat. 

Sebelum adanya agama Islam di Jawa, upacara adat ini merupakan kegiatan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama maupun ketua suku.

Pada zaman dulu, sesaji yang digunakan untuk persembahan yaitu makanan seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. 

Namun, dengan adanya perpaduan budaya Islam, upacara ini akhirnya mengalami perubahan yang sangat besar. 

Kebiasaan sesaji yang digunakan untuk persembahan, lalu dihilangkan dan di makan bersama setelah acara selesai.

2. Upacara Adat Siten

Tedhak siten merupakan upacara turun tanah yang dilakukan untuk anak-anak berusia tujuh bulan. 

Hal ini bertujuan untuk membuat anak tersebut menjadi mandiri, kuat dan mampu menghadapi masalah hidup.

Sementara itu, upacara adat ini juga menandakan persiapan anak dari kecil sampai dewasa untuk menghadapi hidup dengan lancar. 

Selain itu, untuk penghormatan atas bumi yang sudah menjadi tempat pijakan sang anak.

Ada beberapa tahapan dalam upacara ini, yaitu menginjak bubur dari beras ketan, menaiki tangga yang dibuat dari tebu, mengais pasir, masuk ke dalam kurungan ayam, penyebaran udik-udik dan memakai busana bagus.

3. Upacara Adat Popokan

Popokan adalah salah satu upacara adat Jawa Tengah yang cukup populer dan berkembang sampai sekarang. 

Biasanya, kegiatan tradisi ini yaitu melempar lumpur yang dilakukan oleh masyarakat Beringin daerah Semarang. 

Upacara adat ini dilakukan saat bulan agustus pada hari jumat Kliwon.

Adapun asal usul dari tradisi ini berasal dari daerah Beringin. 

Dimana, masyarakat setempat di datangi seekor macan yang mengganggu dan mengancam warga desa. Sehingga, segala macam peralatan sudah dipakai untuk mengusir macan termasuk dengan melempar lumpur.

Nah, dari situlah upacara ini di kembangkan oleh masyarakat setempat sehingga masih terjaga dengan baik sampai saat ini. Dengan tujuan agar dapat menghilangkan kejahatan dan tolak bala di daerah mereka.

4. Upacara Adat Syawalan

Upacara adat Jawa Tengah selanjutnya yaitu syawalan. Syawal merupakan salah satu bulan dalam kalender Hijriyah. 

Biasanya, masyarakat Jawa melakukan tradisi syawalan selama satu pekan penuh. Dimulai setelah Shalat Idul Fitri sampai Lebaran ketupat di hari ketujuh bulan Syawal.

Namun, upacara adat ini sangat populer karena bukan cuma umat Islam saja yang melakukannya. 

Bahkan, masyarakat umum juga melakukannya dalam ikatan keluarga, kesamaan profesi dan ikatan tertentu lainnya. 

Setiap masyarakat tertentu memiliki ciri dan cara masing-masing dalam menggunakan lebaran ketupat.  

Daerah jawa, khususnya jawa timur lebih mengenal tradisi ini dengan kupatan, bakdo ketupat (lebaran ketupat) atau ‘kecilan’ (lebaran kecil) setelah 1 Syawal.

5. Upacara Adat Brobosan

Brobosan adalah salah satu upacara adat yang cukup unik, namun masih berkembang hingga saat ini. 

Dimana, saat ada saudara maupun orang terdekat meninggal, maka anak dan cucu dari orang yang sudah meninggal harus d menerobos dengan melewati bawah jenazah. 

Lalu, jenazah nantinya harus diangkat dengan tandu. Hal ini bertujuan untuk menghormati kepergian jenazah yang mengikhlaskan kepergiannya.

6. Upacara Adat Maulid Nabi (Muludan)

Upacara muludan atau maulid nabi dalam masyarakat Jawa memiliki arti sebagai hari peringatan lahirnya nabi Muhammad Saw yang dirayakan setiap tanggal 12 rabiul awal.

Namun, tradisi ini tidak hanya berlaku di Jawa Tengah saja. Melainkan di daerah lain seperti Sumatera Utara, banyak juga umat Islam yang melakukannya. 

Akan tetapi, dalam tertib acara hanya disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut.

7. Upacara Adat Ruwatan

Upacara adat Jawa Tengah berikutnya yaitu ruwatan. Ruwan sering dikenal dengan upacara kebebasan dari nasib buruk. 

Upacara adat ini diartikan dengan upaya untuk mengatasi kesulitan batin yang akan diterima seseorang dalam hidupnya.

Upacara ini berawal dari keyakinan bahwa manusia yang menganggap orang cacat karena keberadaannya harus ditempatkan dalam tata kosmis yang benar, agar perjalanan hidupnya menjadi lebih bahagia.

Terdapat beberapa tata cara dalam upacara adat ini, yakni menggunakan wayang kulit dengan lakon murwakala siraman, potong rambut, menanam potongan rambut dan sesajen dan tirakatan semalam suntuk.

8. Upacara Adat Nyadran

Nyadran merupakan salah satu upacara yang dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebelum adanya agama Islam, upacara adat ini adalah tradisi dari agama Hindu-Budha. 

Namun, semenjak adanya Walisongo di tanah Jawa para sunan telah menyebarkan ajaran agama Islam dengan menggabungkan tradisi-tradisi tersebut. 

Supaya mudah diterima oleh masyarakat yang masih memuja roh. 

Kemudian, Para sunan tersebut mengganti doa dan juga bacaan-bacaan Al-Qur’an meskipun itu sudah berbenturan dengan tradisi Jawa. 

Dengan berjalannya waktu, akhirnya masyarakat bisa menerima dan juga diamalkan.

9. Upacara Adat Siraman

Siraman adalah salah satu bagian dari prosesi pernikahan adat Jawa. Upacara adat ini dilakukan saat satu hari sebelum berlangsungnya acara pernikahan.

Pada upacara siraman, calon pengantin wanita paes, lalu dilanjutkan dengan acara selamatan. Saat menjelang malam, dilanjutkan dengan acara malam midodareni di rumah calon mempelai wanita.

Terdapat beberapa hal yang harus disediakan untuk acara siraman, yakni:

  • Air siraman, air yang jernih dan bersih dengan taburan bunga mawar, melati dan kenanga.
  • Pengaron, sebagai tempat air siraman.
  • Gayung, untuk mengambil air yang jernih tersebut.
  • Tikar bangka, tikar pandan dan daun apa-apa yang dibungkus kain mori.
  • Ratus.
  • Anglo, tungku yang berguna misalnya kompor yang dibuat dari tanah liat.
  • Kendhi.

Setelah semua perlengkapan tersebut disediakan, maka dilanjutkan lagi dengan pelaksanaan acara prosesi siraman.

10. Upacara Adat Mubeng Beteng

Upacara adat jawa yang terakhir yaitu mubeng beteng. Biasanya, upacara adat ini dilakukan pada malam satu suro sehingga sering dinamakan dengan tradisi malam satu suro.

Upacara adat ini berada di daerah Yogyakarta, yang dilakukan dengan cara mengelilingi benteng atau keraton Yogyakarta. Hal ini berguna untuk simbol refleksi dan introspeksi diri.

Saat sedang melakukan upacara adat ini, nggak boleh berbicara, makan maupun minum selama melakukannya sampai selesai.

Nah, Itulah 10 ulasan tentang upacara adat Jawa Tengah yang masih berkembang dan dilestarikan hingga saat ini. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.